Obrolan Siang Itu….

Aku terpaku pada obrolanmu siang itu. Entahlah… ada rasa bergejolak antara kaget dan… lagi-lagi entahlah kawan.  Aku takjub mendengar ceritamu yang begitu bergairah menyampaikan mimpi-mimpimu.  Kau, pasti bisa kawan! Desisku dalam hati.

Dengan sebatang rokok, kau bercerita banyak hal. Hah… sudah lama tak kudengar kau bercerita, kawan. Begitu banyak waktu serta jarak dan kesibukan membuat kita tak saling berbagi cerita. Tapi, percayalah dirimu tetap hidup dihatiku, kawan. Begitu penuh keyakinan kau menyampaikan semuanya. Aku percaya kelak kau akan mendapatkannya, kawan. Tapi ingat itu jika kau tetap konsisten pada mimpimu ini. Dan janganlah kau berputus asa.

Ada satu keyakinan yang kupercayai dalam menjalankan hidup ini. Aku percaya tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Termasuk perkenalanku pada sosokmu, kawan. Menjadi bagian dalam duniamu, membuatku banyak belajar pada  ‘ketegaran’ dirimu, kawan.

Bukan karena apa-apa aku menjadi kawanmu, juga bukan karena alasan tetek bengek lainnya. Mengenalmu adalah merupakan kado terindah yang Tuhan kasih padaku. Teman bukanlah sekedar teman yang sekedar sapa menyapa, tapi lebih dari pada itu. Ada ikatan yang sulit ku jelaskan. Kau mampu membuka mataku tentang arti ‘teman’ sesungguhnya. Itulah pelajaran pertama yang aku dapat dari sosokmu.

Ada yang aku kagumi darimu dalam bersosialisasi, kawan. Kau sungguh percaya diri membuka dirimu pada orang-orang yang kau temui. Sungguh luar biasa, kawan. Kau sungguh baik pada orang-orang yang kau temui. Kau begitu positif thinking pada orang-orang yang kau temui. Ini juga pelajaran yang tidak aku dapati dari bangku perkuliahan.

Namun sayangnya, kau terlalu egois untuk menerima bantuan dari orang lain. Kau menganggap dirimu mampu menghadapi ini semua. Kau punya cara tersendiri dalam mengatasi masalahmu. Aku tahu kau memiliki jiwa yang tangguh dan ‘tegar’ meskipun terkadang aku meragukannya. Terkadang aku berpikir,  Kau sungguh pintar menutupi ‘kerapuhan’mu.

Mengenalmu, seperti yang kukatakan diatas adalah anugerah Tuhan, sebab tak ada yang kebetulan kawan. Aku bangga bisa mengenal sosokmu. Kau sebenarnya pekerja keras, sayangnya kau terlena pada ‘kemalasan’. Kau punya banyak potensi namun, sepertinya kau masih memikirkan banyak hal dan ketakutan-ketakutan atau.. entahlah apa namanya. Hanya dirimu yang tahu, Kawan.

Kawan, terkadang aku begitu sulit menjangkau duniamu. Begitu banyak perbedaan antara kita, namun orang selalu bilang perbedaan justru membuat persatuan. Tidak, kawan. Bagiku perbedaan adalah membuat kita terkadang satu sama lain menjadi ‘asing’. Namun, kuyakini dalam teori ‘ruang’. Aku dan kau memiliki ‘Ruang’ tersendiri dalam merangkai pertemanan ini.

Maaf untuk segala yang pernah terjadi selama ini, Maaf membuatmu selalu merasa tak nyaman dengan kehadiranku, dan maaf untuk segala rasa marah, kesal, muak, apalah namanya. Maaf untuk segala sikap ini. Dan, terima kasih atas pelajaran ini, Kawan.

Obrolah siang itu banyak membuatku merenung tentang ucapkanmu. ‘Bergairah’ dan ‘Penuh semangat’… dan ‘yakin’. Aku suka pada sifatnya yang ‘mau belajar’ termasuk belajar dari ‘masalah-masalah’ yang pernah menghampirimu. Sekali lagi, bagiku kau begitu tegar terhadap apa yang pernah kau hadapi.

Ada satu hal yang tidak aku sukai dirimu. Oh, ku harap ini tidak mengubahmu. Bukannya teman, adalah memaklum kepribadian masing-masing. Baik atau buruknya…. Terkadang kau orangnya ‘lupa diri’. Tapi itu dulu entah sekarang. Aku tidak terlalu tahu. Karena siang itu aku melihat kedewasaan yang dimatamu.

“ Maklumi teman, hadapi perbedaan,” –Kepompong–

Tidak perlu mengobrol tentang hidup di danau maninjau, atau apalah yang pernah kau rancang dulu. Cukup di sebuah warung nasi Padang, kita berbicara.

Terima kasih untuk siang itu, untuk pertemanan yang kau tawarkan padaku dulu…. Raihlah mimpimu, kawan. Yakinlah…. Dan satu pesanku padamu jangan pernah kau lupa pada Tuhanmu. Hal yang terpenting belajar untuk konsisten dan jangan cepat menyerah.

Mari bergembira, kawan. Tersenyumlah pada Hidup yang indah ini. Tiba-tiba aku tak sabaran meihatmu memeluk negeri Paman Sam. Kereen……. 😀

*** Tulisan ini aku persembahkan buat seorang teman.. selamat ulang tahun, kawan 26/07/1989–

Disudut ruangan itu… cerita ini dimulai

Disudut ruangan itu maka aku memulai cerita ini. Ini mungkin agak berantakan… tapi jujur aku ingin bercerita. Hanya itu.

Casio hitam dipergelangan tangan kiriku menunjukan angka sebelas saat aku keluar dari lift. Lantai 12. Telat satu jam. Aku mengembus napas berat. Terasa asing memang, terlebih saat aku melangkah memasuki gedung ini. Seliweran orang membuat aku benar-benar bingung. Terjebak pada situasi yang sangat membingungkan.

Memasuki pelataran acara, setelah menulis daftar ‘absensi’  Kembali melewati seliweran orang-orang. Melewati lor0ng-lorong mencari dimana tepat acara tersebut. Acara ini lumayan buat saya … entahlah. Puluhan artis datang dan ibu-ibu bergaya ala penjabat. Rada ‘jiper’ juga dengan penampilan saya yang rada berantakan–(Maklum, saya habis ‘pementasan’ di bundaran H.I. Panasss…)–Setelah melewati dalam kebingungan, saya mencoba menarik napas. Selang satu jam sudah… dua artis yang berhasil saya wawancarai meskipun cuma satu artis yang bisa saya tulis.

Disinilah cerita ini dimulai. Oke… melihat orang-orang yang hadi dari ‘tampilan’ ala ibuk-ibuk pejabat, kita sudah tahu bagaimana ‘hidup mereka’. Kalangan atas. itulah sebutan bagi mereka. Ini berawal dari dua ibuk-ibuk asyik mengobrol dan menatap sinis pada piring yang berisi makanan sisa. Seperti biasa, acara-acara seperti ini menyajikan hidangan francis –Itu sebutan dikampung saya, entah bagi yg lain–. Makanan ala hotel tersaji. Ada seorang ibuk dengan penampilan, –Maaph–, ala ibuk-ibuk pasar dengan jilbab lusuh dan sepatu apa adanya. Tapi, saya percaya itu pakaian terbaiknya.

Bagi ibuk tersebut, sajian makanan itu lezat hingga ia mengambil porsi banyak. Sayangnya, dia tidak dapat mengabiskan porsi tersebut. Alhasil, dua ibuk ala pakaian ‘pejabat’ itu ‘bergunjing’. Intinya kalimat : ” Kampungnya dibawa,”

Terenyuh saya mendengar kalimat tersebut. Entahlah…

Cerita kembali pada beberapa hari kemudian… saat kaki saya tiba-tiba ‘dipaksa’ berhenti melihat adegan seorang anak autis umurnya kira-kira sama besar dengan saya meskipun postur tubuhnya lebih gede dari saya. Dia menangis bak anak kecil, dan sang ibuk mencoba mendiaminya. Sayangnya orang yang berpakaian safari menghampiri dan membentak ibuk-ibuk tersebut. Kasihan memang….

kembali hati saya berdesir….entahlah!

Kawan, Hidup ini terkadang ‘Kejam’ saat kita terjebak di situasi ‘perbedaan’. Entahlah… antara kaya-miskin, bodoh-pintar apalahh namanya. Saya punya pengalaman saat saya memasuki kaki disebuah kosmetik dgn merek ternama. Harga produk paling murah 50 ribu. Jangan harap dilayani, divueki malah dan di ‘tatap’ curiga. Yang dilayani orang-orang dengan penampilan ‘keren’. Mereka terkejut saat saya membeli produk  dengan jumlah yang bisa terbilang gede’… dengan senyum ramah ia kembali melayani sayang (Sayangnya pegawai itu tidak tau saya membeli titipan).

Terkadang sangat kejam, ‘orang kaya’ lebih dihormati, di’banggakan’  daripada orang yang ‘bermoral’.

Lagi-lagi entahlah…

Kota Tua (Lagi)

Lagi-Lagi Kota Tua menjadi pelarian saya mengisi liburan kali ini. Sempat ‘stress’ juga sih… sebenarnya pengin banget ke Solo, tempat Linggar my old friend. Sayangnya, Linggar ada kegiatan. :(… Atau ke yogya. Hahahah, lagi-lagi permasalah ‘uang’. Saya mengalami ‘bokek’ terberat dalam hidup saya. Tabungan saya ludes.

Ada rasa syukur saya ketika menerima sms Al,  yang kamis sore bareng teman-temannya berangkat ke gunung Gede menyatakan klo tidak ada lowongan untuk ikut. Awalnya saya ‘iseng’ minta ikut, padahal sebelumnya saya juga menerima tawaran dari senior saya utk mendaki gunung juga, napak tilas soe hoek Gie. Sayangnya, saya menolak dengan halus.

Mendaki gunung adalah impian saya… Hanya saja terkadang saya memikirkan fisik saya. Apalagi akhir-akhir ini kesehatan saya benar-benar ‘Parah’. Bukan saja air putih yang selalu ada di dalam tas saya, tapi juga roti. Saya tidak terlalu bisa melangkahkan kaki sesuka hati saya, badan saya sering melemah. (Allah izinkan saya sehat. Amiin…)

Jum’at, sepanjang siang saya menghabiskan waktu di depan laptop. Online. ( Istilah seorang, sampai mati gayapun, Online masih yang terbaik). Saya tahu pagi ini ada acara Himajur foto angkatan, hanya saja ada somethin’ (yang g’ mungkin dibahas disini) membuat saya enggan pergi. Sebelumnya, saya sms beberapa teman untuk menghabiskan hari ini keliling jakarta dengan transjakarta. Akhir bulan, tugas yang menumpuk dan mesti bercumbu menjadi alasan mereka untuk enggan menerima ajakan saya.

Well, Akhirnya saya putuskan untuk tidur sejenak, mengistirahatkan badan saya. Tiba-tiba sms datang dari Sadryna (My best friend), mengajak saya untuk ke KOTA TUA. Ia baru saja dapat hadiah kamera olympus dari nyokapnya sebagai hadiah ultah yang ke 19.

Seperti biasa, Ada Pandu (pacarnya Sadryna). Alhasil saya jadi ‘obat nyamuk’ (G’ juga sih. Lebih tepatnya ‘penganggu’ mungkin. nah lho?).

Saya sampai di kota tua menjelang maghrib. Gila.. Fatahillah tiada matinya. Dengan se cup cappucino hangat sembari menunggu sadryna dan pandu saya menikmati atmosfer suasana yang dimaraki oleh pasangan dan GENK muda-mudi.

Saya sering ke daerah sini, tapi hanya sekitar fatahillah.  saya hanya ingin mencari sisi lain dari kota tua, maka saya, sadryna dan pandu mencoba menyelusuri hingga ke belakang. menikmati suasana lampu-lampu jalanan dan suasana yang sudah berganti malam. Kereen… akhirnya saya menemui jembatan merah. Hahahah, terlambat memang setelah sering ke fatahillah saya baru melihat jembatan merah. Oh, no…!!!

Sayangya saya tidak membawa kamera, dan kamera sadryna kehabisan baterai. Alhasil, kita futu-futunya dengan kamera handphone. jadi saya tidak bisa mengupload di sini 😦

Kota Tua tiada mati-nya bagi saya. Tetap keren, tetap menyimpan keromantisme hidup. Hah… saya penasaran dengan Sunda Kelapa. dari fatahillah kemananya ya???

The Next trip.. siapa ya yang akan saya ajak??? mudah-mudahan ada yang mo nemani saya menjelajahi kota Tua hingga Sunda kelapa. 🙂

Thanks Sadryna udah ‘maksa’ saya untuk nyusul….

Antara Bolang dan Ninja Hatori

Hello! Long time no sharing things…

Hahahah.. mo cerita apa ya..???* bingung

Ehm…. beberapa waktu yang lalu saya membaca notes seorang teman kampus di FB. sedikit berbicarakan tentang ‘Aku’. ‘ Aku’ dalam arti disini adalah seberapa besarkan kita mengenal diri kita. Nah, ini agak berat sih pembahasannya. Alasan utama adalah saya bingung menjelaskan ‘Aku’-nya saya. Seperti yang pernah dikatakan seorang teman tentang saya adalah saya penuh keragu-raguan. Tidak sepenuhnya salah, dan sepertinya Benar. Kayaknya tulisan ini di stop dulu dah.. 😀

Hahahh… next:

1. Bolang

--Bolang Trans7--

Istilah ‘bolang’ Akronim dari Bocah Petualangan. Sebuah program acara di trans7 yang menceritakan bocah-bocah yang bermain penuh petualangan.  Tak perlu dijelaskan. Karena, saya rasa sebagian dari kita pernah menontonnya, bukan?

Saya sebenarnya tidak terlalu suka menonton ‘Bolang’ mengingat jam yang ditayangkan merupakan jam tidur siang saya. [–g’ ada hub’nya). Hahah…

Kenapa ‘Bolang’?

Istilah Bolang pertama kali melekat di diri saya saat awal saya duduk dibangku kuliah di UNP (–saya pernah menghabiskan waktu selama satu tahun di fakultas manajemen–), Bagaimana perkenalan saya dengan Wq, teman satu jurusan saya tidak terlalu jelas. Tapi, Wq in The Genk yang memberi gelar ‘Bolang’ ke saya. Bolang disini sama artinya dengan Bolang diatas. Bocah petualangan. Alasan yang pasti saya tidak terlalu tahu. Ada rasa bangga saat mereka memanggil saya ‘Bolang’. Saya merasa dihargai sebagai ‘teman’ mereka. ( :d, Terima kasih Wq in the Genk).

Saya pikir, istilah ‘Bolang’ akan hilang begitu saja saat saya memutuskan ‘hengkang’ dari UNP dan hijrah ke Ibukota Merasakan suasana baru disalah satu kampus swasta di Ibukota.  Kehidupan baru… lembaran baru. Dan, diri yang baru. Pikir saya.

Tapi, tidak dengan kata ‘Bolang’. Saya tidak terlalu terbuka tentang kehidupan pribadi maupun masa lalu saya. Tapi, entah kenapa darimana mereka tahu klo saya di panggil ‘Bolang’. Tapi, saya tak perlu menanyakannya. Ternyata ‘Bolang’ disini adalah Akronim dari ‘Bocah Ilang’. Entah ini negatif atau positip maknanya. Yang jelas selalu ada kata yang diserukan sebagian teman-teman kampus saya.

" Foto sang 'bolang' :(

"Foto sang 'Bolang' 😦

” Dasar loe Bolang!”

It’s okey. I’m fine 🙂

Atau terkadang foto saya selalu dikomentar. ” Foto lo kayak bocah ilang. Anak kehilangan induknya.” hello…. bukannya saya ‘kehilangan’ nyokap untuk sementara waktu selama saya berada di ibukota???

Lagi-lagi saya memaknai panggilan itu sebagai rasa sayang mereka kepada saya…

2. Ninja Hatori

ninja hatori

Apa hubungannya Ninja Hatori dan Bolang??? sebenarnya mereka tak ada hubungannya. Kenalan aja belum pernah. Ngomong-ngomong apa kabarnya Ninja Hatori ya?? Manga karangan Fujiko Fujio yang diterbitkan pada tahun 1964-1968 dan 1981-1988 sempat menjadi film favorit saya menyambut hari minggu waktu zaman SD dulu. Tapi, sumpah klo ditanya soal Hatori sekarang saya lupa. Memori masa kecil benar-benar ‘Payah’.

Nah, mengapa lari ke ‘Ninja Hatori’… hah kembali saya mendapatkan Gelar tersebut dari teman-teman saya. Kenapa bisa ‘lahir’ panggilan Hatori tanpa perlu ‘Potong kambing’ atau ‘nyusun tesis’ dulu? Saya sendiri tidak tahu. Tiba-tiba muncul begitu saja mengalir begitu saja.

” Eka mana?oh, Eka Ninja,”

” Dasar Ninja hatori lo,”

Arrgghtt…. pokoknya lebih ngetop ‘Ninja hatori’ dari pada ‘bolang’.  Yang parah ketika saya mengantikan pic profil di fb. Di chat room, teman beda kampus langsung masuk ke room saya.

"tak ada miripnya dengan 'Ninja Hatori'

” Hahahha, foto lo kyk Ninja Hatori,”

huh 😦

Pamor ‘Bolang’ terkalahkan dengan pamor ‘Ninja Hatori’. Hahahah… tak Apalah. Lagi-lagi saya mesti berlapang dada. Ya, Pada akhirnya apapun panggilan yang datang kepada saya, saya sadari betapa berartinya sosok saya bagi teman-teman. ( berpikir positip itu perlu :D)

Bagi orang sahabat adalah orang yang merasakan susah, senang, sedih, air mata atau apalah namanya. Tapi, bagi saya sahabat adlh orang yang ‘mengingat’ nama kita setiap saat. Ini mungkin, bentuk penghargaan teman-teman saya kepada saya. Terima kasih, kawan…!

Luv my friend’s 😉


Sensasi Ayam ‘Kampung’ Bakar di Tenda

Jakarta– Ingin merasakan sensasi menikmati ayam kampung apalagi kalo di bakar dengan aroma yang tak kalah mengoda yang ditimbulkan dari bumbunya. Sangat mengugah selera disaat perut kosong apalagi dengan suasana udara malam dengan ‘panas’nya ayam bakar. Tak perlu bingung untuk bisa merasakan di lidah. Jika ada waktu cobalah untuk menginjak kaki di kawasan pasar Slipi Jaya untuk bisa menikmati sensasi ayam kampung.
Ayam Bakar Ps. Slipi Jaya seperti itu yang tertulis di daftar menu makanan saat kita singgah diwarung tenda makanan yang berada di depan bank DKI Jakarta Pasar Slipi Jaya. Keramaian tampak dari pengunjung yang setia menunggu makanan siap tersaji. Sedangkan pelayan makanan sibuk mengipas-ngipas ayam yang terpanggang di bara api. Masih dibakar secara alami. Asap kemana-mana seiring aroma yang ditimbulkan. Sedangkan sebagian pelayan sibuk meletakan ‘air kobokan’ untuk mencuci tangan yang di sajikan dengan irisan jeruk nipis didalamnya.
Tak perlu menunggu lama untuk dapat segera menikmati ayam bakar tersebut, pelayannya cukup cekatan apalagi dengan jumlah pelayan yang banyak. Disajikan dengan bumbu kacang serta sambal dan irisan jeruk nipis mampu mengugah selera bagi yang menyukai rasa pedas. Kita dapat memilih antara nasi uduk dan biasa sebagai temannya ayam bakar.

Untuk melegakan tenggorokan kita bisa memesan es teh manis atau es jeruk. Menu minuman memang masih standar warung tenda pecel ayam biasanya. Tapi, itu tidak menghilangkan kelezatan dari sensasi ayam bakarnya tersebut.
Gurihnya ayam kampung yang dibakar berbeda dengan ayam negeri dari empuknya daging dan isi padatnya bisa kita nikmati dengan harga Rp. 10.000,-. Cukup untuk mengenyangkan perut dimalam hari. Kita bisa menikmati sayur asem sebagai menu pelengkap yang dihargai Rp. 6.500,-/mangkuk. Serta, tempe bacem dan tahu juga hati/ampela bakar yang tak kalah nikmatnya.
[ Terasa nikmat saat ‘mencocolkan’ daging ayam dengan sambal kacang.]
Warung tenda ayam bakar ini sudah berdiri delapan belas tahun yang lalu yang sudah memiliki langganan yang cukup banyak. Dibuka pada jam 16.00 Wib hingga jam 23.00 wib. Datanglah disaat habis maghrib atau sesudah isya. Meskipun patokan jam tutup jam 23.00 Wib. Tapi, sering tutup sebelum waktunya karena sering habis sebelum jam 23.00 Wib. [ Eka,-]

Hanya sekedar Cerita

Saya pikir minggu ini berjalan dengan menyenangkan. Ternyata tidak. Waktu terasa seperti ‘musuh’ bagi saya…yang saya tidak suka adalah saya kemaren ‘sakit’. huh..!!!

Hah.

Senin yang menjadi jadwal menonton 3 idiot saya bersama Gelia ternyata batal. Kerja saya di ‘ElEVEN’ ternyata belum beres. mesti wawancara, bang Moment Dosen dasar-dasar jurnalistik saya dulu terkait koran Kampus yang akan terbit. Bego’nya saya, saya memilih mengerjakan sendiri hasil wawancara tanpa mengajak Echa terlibat. Tapi, tak apalah sembari belajar menjadi wartawan.

Selasa, saya berniat menonton Remember Me atau Hachiko bersama Eda di Metropole sekitar jam 2 an siang. Sebelumnya, pagi sengaja saya tidak masuk kelas PBOB mengingat kelelahan yang membuat saya memilih tidur dan akan mengikuti pelajaran Jurnalistik Elektronik jam satu siang. Saya pikir akan pulang cepat atau setidaknya dosennya berhalangan tidak masuk. Ternyata salah…. saya lupa sms Eda. semua terasa ‘Ribet’ , saya belum mengirim hasil wawancara bang Moment. Ada rasa sedikit kelega’an saat eda bilang, ia juga menunggu Gelia. ternyata tak jadi karena alasan macet. Saya tahu, eda tidak menginginkan temannya ‘susah’. Begitulah yang diajarkan orang tua kami….saya membuat eda menunggu hampir lima jam di cikini. Jujur, saya merasa bersalah. andai saya tak salah kereta yang ternyt kereta tanah abang, atau naik taksi dari manggarai ke cikini tak jadi masalah. Maaf eda..

Rabu, petaka datang saat saya menyadari kunci kosan saya hilang. Saya terpaksa ke tempat eda, tak peduli dengan kuis KWN, karena saya bukamlah orang yang terlalu peduli dengan ‘nilai’ yang tertera di kertas.  saya bawa tidur dalam kestressan. menyadari tugas feature belum selesai, membuat saya stress. Kamera DSLR saya ada di dalam kamar. Huh…:(.  Saya teringat Gelia (Kali ini dia bener2 pahlawan saya). Gelia meminjamkan kameranya. hahah, meskipun bukan DSLR, Tapi tak apalah asal menghasilkan gambar juga.

Malamnya menjadi menyenangkan. Selesai sholat maghrib di kosan Mitha, dan mengambil oleh2 dari Bangka. Saya pergi ke Reboan. ini pengalaman pertama. Gila… orang tua semua. kagak ada yang kenal. Rada ‘takut’ saya masuk dan mengambil bangku. menikmati semua sajian. Saya suka pas pembacaan puisi oleh IBS dan kawan-kawan.

Kamis pagi, rekor baru bagi saya, keluar dari kos eda selesai sholat subuh. berniat pergi ke stasiun kota untuk liputan sekalian pulang. disinilah bermula,  badan saya tidak ‘nyaman’. Saya mau pingsan. selesai menulis liputan tinggal di print, sesampai di kosan saya, saya langsung tidur. Jarum jam menunjukkan angka 7 lewat. saya peduli. badan saya benar-benar ‘tidak enak’. kepala saya pusing. saya tepar. Tapi, masih punya tenaga untuk mengumpulkan tugas. saya terbangun jam setengah sembilan. padahal saya kuliah jam delapan. tak peduli, saya sempati singgah ke warnet numpang ngeprint sebelumnya saya mandi dengan air panas. Ingin rasanya menyeduh jahe merah, sayang waktu seperti menelan saya.

Ada rasa ‘tidak enak’ masuk jam setengah sepuluh. Tapi, saya bener-bener tak peduli. diusir, usir dah. ternyata dosennya baik. di kelas saya benar-benar mau pingsan. keringat dingin mulu’. saya tidur, tak sanggup. akhirnya saya keluar. Beruntung ada Ana dan Naya di depan kelas. Alhasil saya tidur-tiduran di depan kelas. Saya tak peduli dengan tas saya di dalam dan absen. beruntung, Rahma, teman saya mau mengumpuli tugas saya dan mengabsenkan saya serta membawa tas saya keluar.

Setelah kuliah usai, saya bener-bener tidak tahan lagi. saya tidak peduli dengan keadaan sekeliling saya yang menyapa, saya melangkah kaki cepat dalam dada yang naik turun. Allah, saya tidak ingin pingsan!

Saya paling takut sakit. Ya, ternyata bener. Sampai di kosan saya muntah 2 kali. air semua isinya. huh!!

didalam kamar saya menangis sejadi-jadinya. kalo sakit saya selalu ingat mama. huh….!!!

Akibat keadaan badan saya, saya batal ke snowbay bareng anak-anak. Padahal kita sudah berencanakan jauh2 hari. :'(. Saya selalu tak ada jika terjadi ‘kebersamaan’ diantara teman-teman saya. inilah yang saya sedihkan.

Ana, Naya dan Depi datang ke kosan. Saya hanya tertawa sembari menangis. Tak sanggup menerima  kenyataan kalau saya sakit. Naya mengusap punggung saya dengan minyak kayu putih. sementara Ana membeli nasi dan obat kepada saya. memaksa saya makan. Satu-satunya saya inginkan menelpon mama. Oh, tidak sejak kapan saya ‘cengeng’ seperti ini. Ayah….

Saya sms eda, memintanya datang ke kosan saya. Badan saya sedikit legaan ketika Eda datang dan teman-teman saya pergi. sorenya, saya sudah datang berdiri dan berjalan. saya dan eda pergi ke kosan eda. berencana besok ke Bandung.

Kamis, ternyata sampai Bandung cuma ngejar 3 idiot saja. Saya tahu eda takut ketinggian, makanya ia tidak mau menonton 3 idiot di PP atau GI. Hahahah.. di PVJ, lumayan murah dengan harga 35.000,-. tapi, di bandingkan ongkosnya dari jakarta sama saja. Huh 😦

Dan, mata saya mulai mengantuk. saya tak ingin bergadang lagi lalu ‘tepar’ lagi. Huh… cerita saya lanjutkan esok. Pvj dan 3 Idiots…….

bersambung…

Tanggisan Vettel, Bahagia Button

Jakarta, — Jenson Button, pembalap McLaren berhasil  meraih sukses di Formula 1 Grand Prix (GP) Australian 2010 ( 28/03) di sirkuit Albert Park, Melbourne. Pemain asal Inggris ini berhasil menyelesaikan 58 lap dalam waktu 1:33:36:531 detik, diikuti oleh Kubica dari Renault dan Felipe Massa dengan Ferarri.

Berbeda dengan yang dialami oleh Red Bull Racing Sebastian Vettel yang sempat memimpin hampir sebagian lap mesti menelan pil pahit kegagalan. Akibat kerusakan mesin pembalap asal Jerman ini harus keluar dari lintasan sebelum mampu menyelesaikan lap ke 58.

Hujan sebelum pertandingan di kota Melbourne membuat balapan kali ini terbilang seru karena banyak atraksi seru akibat keadaan sirkuit yang          basah. Ditikungan pertama saja mobil Button menyenggol mobil Alonso yang lantas melintir dan menyerempet mobil Michael Schumacher. Sayap kiri mobil Schumi, panggilan pembalap yang pernah menjadi juara dunia sebanyak tujuh kali dan berada di Mercedes GP ini sempat mengeluarkan api. Banyaknya atraksi seru yang ditimbulkan memaksa mobil Safety Car mengambil pimpinan jalannya lomba hingga tiga lap.

Dengan kondisi Sirkuit yang masih basah, Button memilih untuk mengantikan ban. Dan, pembalap yang juga sukses tahun 2009 di GP Turki juga nyaris hampir tergelincir. Namun, ia tetap mampu mempertahankan konsistensi dan terus menempel ketat ke Sebastian Vettel. Dan, disinilah senyum bahagia terukir dibibir Button, saat Vettel tergelincir. Button terus melaju memimpin hingga akhir balapan.

Kemenangan ini merupakan kemenangan perdana yang dipersembahkan Jensen Button untuk McLaren. Dan, tentu saja sangat ‘sial’ bagi Vettel yang sempat memimpin nyaris separuh lap akibat insiden pada mobilnya. Urutan kedua disusul oleh Kubica Renault dan Massa Ferrari.

***Tugas PBOB