Gie….

16 desember 2009…. 40 tahun ” cina kecil” itu meninggalkan ‘dunia’ ini. Tapi, dia akan tetap hidup…. mengutip kalimat filsuf yunani yang di kutip dari buku catatan seorang demonstran Gie, ” nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda,, dan yang tersial adalah umur tua. rasa-rasanya memang begitu. bahagialah mereka yang mati muda,”

27 tahun meninggal dunia di semeru…. tepat sehari sebelum ulang tahunnya.

Gie…. Soe-Hok-Gie!!!

Saya tidak terlalu mengenalnya mengingat antara perbedaan zaman saat  menghirupkan napas di udara. Gie hadir di masa periode soekarno. Pernah merasakan euforia “kemerdekaan” dan “PKI”. Tapi, entah kenapa selalu ada air mata saat menyelusuri sejarah hidupnya. Tentang kegelisahan dan… HIDUP.

Perkenalan pertama tentang ” Gie” berawal dari film “Soe-Hok-Gie” yang di produseri oleh Mira Lesmana yang akhirnya toko buku dibanjiri catatan harian Gie. Rasa penasaran dan keinginan tahuan untuk mempelajari sejarah bangsa ini membuat saya– pada saat itu masih mengenakan seragam abu-abu– berdiri di gramedia Padang membaca buku tersebut. Setiap malam minggu, yang semestinya menjadi jadwal Les mata pelajaran saya korbankan untuk menghabiskan waktu di gramedia meskipun seragam sekolah masih melekat di badan. Saya tidak peduli, saya larut dalam kisah ‘Gie’. Pada puisinya,  pada gelisahannya, pada kehidupannya [ Dan… tidak untuk agamanya!]. Tentu saja saku saya tidak sanggup membeli buku tersebut.

Saya larut dalam alunan Ost “Gie” yang di bawa oleh okta-Erros. yang membuat saya menitikkan air mata, meskipun teman saya mengeleng mendengar “NSP” saya yang menggunakan Ost film “Gie”. Ada rasa yang sulit diungkapkan saat menyusuri jejak hidupnya. Aku mencintai “Gie”….

Membaca kembali buku terbaru tentang “Gie” yang berjudul ” Soe Hok-Gie…sekali lagi,” kembali mengulik kisahnya dan menimbulkan kembali rasa yang sempat terlupakan. Aku mencintai “Gie”….!!!!

Apa jadinya Gie hidup di zaman sekarang. melihat seorang nenek yang dituduh maling “Kakao” , pencuri semangka, dan sebagainya. Atau, melihat sang “maling” yang ongkang kaki di Senayan…. tertidur pulas dalam ruangan ber AC. ” Kriminalisasi hukum”, Century dan permasalahan lainnya.

Kemiskinan, pendidikan, dan dimana “uang” menjadi raja bagi bangsa ini….

Gie….

40 tahun sudah kau meninggalkan “Indonesia” ini…. ( Semeru, 16 desember 1969)

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: