Hanya sekedar Cerita

Saya pikir minggu ini berjalan dengan menyenangkan. Ternyata tidak. Waktu terasa seperti ‘musuh’ bagi saya…yang saya tidak suka adalah saya kemaren ‘sakit’. huh..!!!

Hah.

Senin yang menjadi jadwal menonton 3 idiot saya bersama Gelia ternyata batal. Kerja saya di ‘ElEVEN’ ternyata belum beres. mesti wawancara, bang Moment Dosen dasar-dasar jurnalistik saya dulu terkait koran Kampus yang akan terbit. Bego’nya saya, saya memilih mengerjakan sendiri hasil wawancara tanpa mengajak Echa terlibat. Tapi, tak apalah sembari belajar menjadi wartawan.

Selasa, saya berniat menonton Remember Me atau Hachiko bersama Eda di Metropole sekitar jam 2 an siang. Sebelumnya, pagi sengaja saya tidak masuk kelas PBOB mengingat kelelahan yang membuat saya memilih tidur dan akan mengikuti pelajaran Jurnalistik Elektronik jam satu siang. Saya pikir akan pulang cepat atau setidaknya dosennya berhalangan tidak masuk. Ternyata salah…. saya lupa sms Eda. semua terasa ‘Ribet’ , saya belum mengirim hasil wawancara bang Moment. Ada rasa sedikit kelega’an saat eda bilang, ia juga menunggu Gelia. ternyata tak jadi karena alasan macet. Saya tahu, eda tidak menginginkan temannya ‘susah’. Begitulah yang diajarkan orang tua kami….saya membuat eda menunggu hampir lima jam di cikini. Jujur, saya merasa bersalah. andai saya tak salah kereta yang ternyt kereta tanah abang, atau naik taksi dari manggarai ke cikini tak jadi masalah. Maaf eda..

Rabu, petaka datang saat saya menyadari kunci kosan saya hilang. Saya terpaksa ke tempat eda, tak peduli dengan kuis KWN, karena saya bukamlah orang yang terlalu peduli dengan ‘nilai’ yang tertera di kertas.  saya bawa tidur dalam kestressan. menyadari tugas feature belum selesai, membuat saya stress. Kamera DSLR saya ada di dalam kamar. Huh…:(.  Saya teringat Gelia (Kali ini dia bener2 pahlawan saya). Gelia meminjamkan kameranya. hahah, meskipun bukan DSLR, Tapi tak apalah asal menghasilkan gambar juga.

Malamnya menjadi menyenangkan. Selesai sholat maghrib di kosan Mitha, dan mengambil oleh2 dari Bangka. Saya pergi ke Reboan. ini pengalaman pertama. Gila… orang tua semua. kagak ada yang kenal. Rada ‘takut’ saya masuk dan mengambil bangku. menikmati semua sajian. Saya suka pas pembacaan puisi oleh IBS dan kawan-kawan.

Kamis pagi, rekor baru bagi saya, keluar dari kos eda selesai sholat subuh. berniat pergi ke stasiun kota untuk liputan sekalian pulang. disinilah bermula,  badan saya tidak ‘nyaman’. Saya mau pingsan. selesai menulis liputan tinggal di print, sesampai di kosan saya, saya langsung tidur. Jarum jam menunjukkan angka 7 lewat. saya peduli. badan saya benar-benar ‘tidak enak’. kepala saya pusing. saya tepar. Tapi, masih punya tenaga untuk mengumpulkan tugas. saya terbangun jam setengah sembilan. padahal saya kuliah jam delapan. tak peduli, saya sempati singgah ke warnet numpang ngeprint sebelumnya saya mandi dengan air panas. Ingin rasanya menyeduh jahe merah, sayang waktu seperti menelan saya.

Ada rasa ‘tidak enak’ masuk jam setengah sepuluh. Tapi, saya bener-bener tak peduli. diusir, usir dah. ternyata dosennya baik. di kelas saya benar-benar mau pingsan. keringat dingin mulu’. saya tidur, tak sanggup. akhirnya saya keluar. Beruntung ada Ana dan Naya di depan kelas. Alhasil saya tidur-tiduran di depan kelas. Saya tak peduli dengan tas saya di dalam dan absen. beruntung, Rahma, teman saya mau mengumpuli tugas saya dan mengabsenkan saya serta membawa tas saya keluar.

Setelah kuliah usai, saya bener-bener tidak tahan lagi. saya tidak peduli dengan keadaan sekeliling saya yang menyapa, saya melangkah kaki cepat dalam dada yang naik turun. Allah, saya tidak ingin pingsan!

Saya paling takut sakit. Ya, ternyata bener. Sampai di kosan saya muntah 2 kali. air semua isinya. huh!!

didalam kamar saya menangis sejadi-jadinya. kalo sakit saya selalu ingat mama. huh….!!!

Akibat keadaan badan saya, saya batal ke snowbay bareng anak-anak. Padahal kita sudah berencanakan jauh2 hari. :'(. Saya selalu tak ada jika terjadi ‘kebersamaan’ diantara teman-teman saya. inilah yang saya sedihkan.

Ana, Naya dan Depi datang ke kosan. Saya hanya tertawa sembari menangis. Tak sanggup menerima  kenyataan kalau saya sakit. Naya mengusap punggung saya dengan minyak kayu putih. sementara Ana membeli nasi dan obat kepada saya. memaksa saya makan. Satu-satunya saya inginkan menelpon mama. Oh, tidak sejak kapan saya ‘cengeng’ seperti ini. Ayah….

Saya sms eda, memintanya datang ke kosan saya. Badan saya sedikit legaan ketika Eda datang dan teman-teman saya pergi. sorenya, saya sudah datang berdiri dan berjalan. saya dan eda pergi ke kosan eda. berencana besok ke Bandung.

Kamis, ternyata sampai Bandung cuma ngejar 3 idiot saja. Saya tahu eda takut ketinggian, makanya ia tidak mau menonton 3 idiot di PP atau GI. Hahahah.. di PVJ, lumayan murah dengan harga 35.000,-. tapi, di bandingkan ongkosnya dari jakarta sama saja. Huh 😦

Dan, mata saya mulai mengantuk. saya tak ingin bergadang lagi lalu ‘tepar’ lagi. Huh… cerita saya lanjutkan esok. Pvj dan 3 Idiots…….

bersambung…

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: