Disudut ruangan itu… cerita ini dimulai

Disudut ruangan itu maka aku memulai cerita ini. Ini mungkin agak berantakan… tapi jujur aku ingin bercerita. Hanya itu.

Casio hitam dipergelangan tangan kiriku menunjukan angka sebelas saat aku keluar dari lift. Lantai 12. Telat satu jam. Aku mengembus napas berat. Terasa asing memang, terlebih saat aku melangkah memasuki gedung ini. Seliweran orang membuat aku benar-benar bingung. Terjebak pada situasi yang sangat membingungkan.

Memasuki pelataran acara, setelah menulis daftar ‘absensi’  Kembali melewati seliweran orang-orang. Melewati lor0ng-lorong mencari dimana tepat acara tersebut. Acara ini lumayan buat saya … entahlah. Puluhan artis datang dan ibu-ibu bergaya ala penjabat. Rada ‘jiper’ juga dengan penampilan saya yang rada berantakan–(Maklum, saya habis ‘pementasan’ di bundaran H.I. Panasss…)–Setelah melewati dalam kebingungan, saya mencoba menarik napas. Selang satu jam sudah… dua artis yang berhasil saya wawancarai meskipun cuma satu artis yang bisa saya tulis.

Disinilah cerita ini dimulai. Oke… melihat orang-orang yang hadi dari ‘tampilan’ ala ibuk-ibuk pejabat, kita sudah tahu bagaimana ‘hidup mereka’. Kalangan atas. itulah sebutan bagi mereka. Ini berawal dari dua ibuk-ibuk asyik mengobrol dan menatap sinis pada piring yang berisi makanan sisa. Seperti biasa, acara-acara seperti ini menyajikan hidangan francis –Itu sebutan dikampung saya, entah bagi yg lain–. Makanan ala hotel tersaji. Ada seorang ibuk dengan penampilan, –Maaph–, ala ibuk-ibuk pasar dengan jilbab lusuh dan sepatu apa adanya. Tapi, saya percaya itu pakaian terbaiknya.

Bagi ibuk tersebut, sajian makanan itu lezat hingga ia mengambil porsi banyak. Sayangnya, dia tidak dapat mengabiskan porsi tersebut. Alhasil, dua ibuk ala pakaian ‘pejabat’ itu ‘bergunjing’. Intinya kalimat : ” Kampungnya dibawa,”

Terenyuh saya mendengar kalimat tersebut. Entahlah…

Cerita kembali pada beberapa hari kemudian… saat kaki saya tiba-tiba ‘dipaksa’ berhenti melihat adegan seorang anak autis umurnya kira-kira sama besar dengan saya meskipun postur tubuhnya lebih gede dari saya. Dia menangis bak anak kecil, dan sang ibuk mencoba mendiaminya. Sayangnya orang yang berpakaian safari menghampiri dan membentak ibuk-ibuk tersebut. Kasihan memang….

kembali hati saya berdesir….entahlah!

Kawan, Hidup ini terkadang ‘Kejam’ saat kita terjebak di situasi ‘perbedaan’. Entahlah… antara kaya-miskin, bodoh-pintar apalahh namanya. Saya punya pengalaman saat saya memasuki kaki disebuah kosmetik dgn merek ternama. Harga produk paling murah 50 ribu. Jangan harap dilayani, divueki malah dan di ‘tatap’ curiga. Yang dilayani orang-orang dengan penampilan ‘keren’. Mereka terkejut saat saya membeli produk  dengan jumlah yang bisa terbilang gede’… dengan senyum ramah ia kembali melayani sayang (Sayangnya pegawai itu tidak tau saya membeli titipan).

Terkadang sangat kejam, ‘orang kaya’ lebih dihormati, di’banggakan’  daripada orang yang ‘bermoral’.

Lagi-lagi entahlah…

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: