Obrolan Siang Itu….

Aku terpaku pada obrolanmu siang itu. Entahlah… ada rasa bergejolak antara kaget dan… lagi-lagi entahlah kawan.  Aku takjub mendengar ceritamu yang begitu bergairah menyampaikan mimpi-mimpimu.  Kau, pasti bisa kawan! Desisku dalam hati.

Dengan sebatang rokok, kau bercerita banyak hal. Hah… sudah lama tak kudengar kau bercerita, kawan. Begitu banyak waktu serta jarak dan kesibukan membuat kita tak saling berbagi cerita. Tapi, percayalah dirimu tetap hidup dihatiku, kawan. Begitu penuh keyakinan kau menyampaikan semuanya. Aku percaya kelak kau akan mendapatkannya, kawan. Tapi ingat itu jika kau tetap konsisten pada mimpimu ini. Dan janganlah kau berputus asa.

Ada satu keyakinan yang kupercayai dalam menjalankan hidup ini. Aku percaya tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Termasuk perkenalanku pada sosokmu, kawan. Menjadi bagian dalam duniamu, membuatku banyak belajar pada  ‘ketegaran’ dirimu, kawan.

Bukan karena apa-apa aku menjadi kawanmu, juga bukan karena alasan tetek bengek lainnya. Mengenalmu adalah merupakan kado terindah yang Tuhan kasih padaku. Teman bukanlah sekedar teman yang sekedar sapa menyapa, tapi lebih dari pada itu. Ada ikatan yang sulit ku jelaskan. Kau mampu membuka mataku tentang arti ‘teman’ sesungguhnya. Itulah pelajaran pertama yang aku dapat dari sosokmu.

Ada yang aku kagumi darimu dalam bersosialisasi, kawan. Kau sungguh percaya diri membuka dirimu pada orang-orang yang kau temui. Sungguh luar biasa, kawan. Kau sungguh baik pada orang-orang yang kau temui. Kau begitu positif thinking pada orang-orang yang kau temui. Ini juga pelajaran yang tidak aku dapati dari bangku perkuliahan.

Namun sayangnya, kau terlalu egois untuk menerima bantuan dari orang lain. Kau menganggap dirimu mampu menghadapi ini semua. Kau punya cara tersendiri dalam mengatasi masalahmu. Aku tahu kau memiliki jiwa yang tangguh dan ‘tegar’ meskipun terkadang aku meragukannya. Terkadang aku berpikir,  Kau sungguh pintar menutupi ‘kerapuhan’mu.

Mengenalmu, seperti yang kukatakan diatas adalah anugerah Tuhan, sebab tak ada yang kebetulan kawan. Aku bangga bisa mengenal sosokmu. Kau sebenarnya pekerja keras, sayangnya kau terlena pada ‘kemalasan’. Kau punya banyak potensi namun, sepertinya kau masih memikirkan banyak hal dan ketakutan-ketakutan atau.. entahlah apa namanya. Hanya dirimu yang tahu, Kawan.

Kawan, terkadang aku begitu sulit menjangkau duniamu. Begitu banyak perbedaan antara kita, namun orang selalu bilang perbedaan justru membuat persatuan. Tidak, kawan. Bagiku perbedaan adalah membuat kita terkadang satu sama lain menjadi ‘asing’. Namun, kuyakini dalam teori ‘ruang’. Aku dan kau memiliki ‘Ruang’ tersendiri dalam merangkai pertemanan ini.

Maaf untuk segala yang pernah terjadi selama ini, Maaf membuatmu selalu merasa tak nyaman dengan kehadiranku, dan maaf untuk segala rasa marah, kesal, muak, apalah namanya. Maaf untuk segala sikap ini. Dan, terima kasih atas pelajaran ini, Kawan.

Obrolah siang itu banyak membuatku merenung tentang ucapkanmu. ‘Bergairah’ dan ‘Penuh semangat’… dan ‘yakin’. Aku suka pada sifatnya yang ‘mau belajar’ termasuk belajar dari ‘masalah-masalah’ yang pernah menghampirimu. Sekali lagi, bagiku kau begitu tegar terhadap apa yang pernah kau hadapi.

Ada satu hal yang tidak aku sukai dirimu. Oh, ku harap ini tidak mengubahmu. Bukannya teman, adalah memaklum kepribadian masing-masing. Baik atau buruknya…. Terkadang kau orangnya ‘lupa diri’. Tapi itu dulu entah sekarang. Aku tidak terlalu tahu. Karena siang itu aku melihat kedewasaan yang dimatamu.

“ Maklumi teman, hadapi perbedaan,” –Kepompong–

Tidak perlu mengobrol tentang hidup di danau maninjau, atau apalah yang pernah kau rancang dulu. Cukup di sebuah warung nasi Padang, kita berbicara.

Terima kasih untuk siang itu, untuk pertemanan yang kau tawarkan padaku dulu…. Raihlah mimpimu, kawan. Yakinlah…. Dan satu pesanku padamu jangan pernah kau lupa pada Tuhanmu. Hal yang terpenting belajar untuk konsisten dan jangan cepat menyerah.

Mari bergembira, kawan. Tersenyumlah pada Hidup yang indah ini. Tiba-tiba aku tak sabaran meihatmu memeluk negeri Paman Sam. Kereen……. 😀

*** Tulisan ini aku persembahkan buat seorang teman.. selamat ulang tahun, kawan 26/07/1989–

Iklan
  1. Teman mu itu mengingat kan aku akan diri ku… Ada stu mimpi yang kuinginkan tapi tak kunjung ku temukan tangga yang cukup tinggi untuk meraihnya. Yang ada, setiap aku berusaha meraihnya selalu saja ada hal yang merenggut usahaku. Tapi aku tetap menatap mimpi itu, lekat, dan dengan hasrat. Suatu saat aku akan cukup tinggi untuk menggapainya. Da itu lah masa aku akan dilihat dunia. Karena aku berada di atasnya… 🙂

    Great job any way, Ka. Repitisi kata kawan sangat menggambarkan bahwa kamu benar-benar memujanya. Ku harap aku bisa menjadi seperti itu di matamu dan di mata setiap orang (amin). Keep writing.

    • :D… Yah, ayo mimpi apa??? selalu ada jlnnya kok asal berdo’a dan berusaha 😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: